Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaTerpopuler

Menolak Punah di Bumi Lancang Kuning : Perjuangan Silat Kerabat Lang Buana Dumai Menjaga Marwah Melayu

21
×

Menolak Punah di Bumi Lancang Kuning : Perjuangan Silat Kerabat Lang Buana Dumai Menjaga Marwah Melayu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

​DUMAI — Di tengah gempuran modernisasi dan tren budaya luar yang kian digandrungi, sebuah ironi memilukan sedang terjadi di Tanah Melayu. Seni bela diri warisan para leluhur, Silat Melayu, perlahan mulai kehilangan gaungnya. Gelanggang-gelanggang tua sepi, dan petatah-petitih adab yang biasanya mengalir bersama gerak langkah kini makin jarang terdengar dari lisan generasi muda.

Example 300x600

​Melihat kondisi yang miris ini, sekelompok anak muda di Kota Dumai menolak untuk tinggal diam berpangku tangan. Melalui Silat Kerabat Lang Buana, mereka menyalakan kembali api perjuangan demi memastikan satu ikrar sakral: Tak Melayu Hilang di Telan Zaman.

Merawat Khazanah yang Nyaris Terlupakan

​Silat Melayu bukan sekadar seni bela diri untuk fisik atau ketangkasan bertarung. Di dalam setiap jengkal langkahnya, terkandung nilai estetika, falsafah hidup, adat istiadat, dan benteng keimanan yang kuat. Namun, realita di lapangan menunjukkan banyak generasi Z dan milenial yang lebih akrab dengan gawai atau bela diri impor ketimbang bunga dan buah silat asli tanah kelahiran mereka.

​Sadar akan ancaman kepunahan identitas tersebut, Silat Kerabat Lang Buana di Kota Dumai hadir sebagai oase. Dipelopori oleh gerak progresif generasi muda yang peduli, perguruan ini giat merangkul anak-anak usia sekolah untuk kembali turun ke gelanggang.

​”Kami tidak mau warisan sedahsyat ini hanya menjadi cerita di buku sejarah atau sekadar tampil sebagai pemanis di acara pernikahan formal. Silat Melayu ini adalah marwah, harga diri kita di Tanah Melayu,” ujar salah satu penggerak muda Silat Kerabat Lang Buana.

​Langkah Strategis: Masuk Ranah Legalitas IPSI Nasional

​Perjuangan pemuda Dumai ini tidak berhenti pada sekadar latihan rutin di kampung-kampung. Agar bisa bersaing dan mendapat pengakuan yang setara di tingkat yang lebih luas, Silat Kerabat Lang Buana melakukan langkah besar: melegalkan diri secara nasional di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

​Langkah administrasi dan legalitas ini dinilai sangat krusial karena beberapa alasan:

​Proteksi Budaya: Menghindari klaim sepihak dan menjaga keaslian pakem gerak silat tradisional Melayu agar tetap lestari.

​Jalur Prestasi: Membuka peluang bagi para pesilat muda Melayu Dumai untuk berlaga di ajang resmi, mulai dari tingkat daerah (Popda/Porprov) hingga kancah nasional (PON) dan internasional.

​Standarisasi & Modernisasi Manajemen: Mengemas perguruan tradisional dengan manajemen organisasi yang rapi tanpa merusak nilai-nilai sakral adat di dalamnya.

Bersandar pada Adab, Bergerak dengan Prestasi

​Meskipun kini berproses menyelaraskan diri dengan regulasi IPSI untuk kebutuhan kompetisi olahraga, Silat Kerabat Lang Buana menegaskan bahwa mereka tetap memegang teguh khazanah adat. Pengajaran adab Melayu, penghormatan kepada orang tua, guru, dan nilai-nilai spiritual keagamaan tetap menjadi fondasi utama sebelum seorang murid diajarkan jurus fisik.

​”Silat ini adalah pakaian diri orang Melayu. Kalau pakaian ini tanggal, maka pincanglah karakter kita. Melalui legalitas IPSI, kami ingin membuktikan bahwa silat yang sarat adat ini juga bisa melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mengharumkan nama Dumai dan Riau,” tambahnya optimis.

​Perjuangan kolektif yang digawangi anak-anak muda di Dumai melalui Silat Kerabat Lang Buana ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh masyarakat Riau. Bahwa di tengah derasnya arus zaman, benteng pertahanan budaya itu masih berdiri kokoh, dijaga oleh tangan-tangan muda yang rindu akan kejayaan bangsanya sendiri.

( Pakcik Amin )

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *